Dulu aku enggak tahu sama sekali soal feminisme dan bingung juga harus baca buku apa. Sebab setiap buku feminisme, terutama yang non-fiksi, kelihatannya kayak intimidating. Keburu takut enggak paham aja. Jadi aku baca bertahap aja, dan ini lah beberapa list buku feminisme untuk pemula yang baru mau belajar.
01. Perempuan di Titik Nol
Buku feminisme yang pertama kali aku baca adalah novel dahulu, baru baca buku non-fiksi. Novel feminisme yang kubaca pertama kali adalah Perempuan di Titik Nol, buku yang ditulis oleh Nawal El-sadaawi dan terbit pada tahun 1975. Mengisahkan tentang pelacur profesional di Mesir yang harus hidup di kehidupan patriarki yang merugikan perempuan.
Salah satu contoh kesulitan Firdaus, tokoh utama di Perempuan di Titik Nol, yang harus hidup di keluarga patriarki:
“Apa yang akan kau perbuat di Kairo, Firdaus?”
Lalu saya menjawab: “saya ingin ke El Azhar dan belajar seperti paman.”
Kemudian paman tertawa dan menjelaskan bahwa El Azhar hanya untuk kaum pria saja.
El Azhar merupakan suatu dunia yang mengagumkan dan hanya dihuni oleh laki-laki saja, dan paman merupakan salah seorang dari mereka. Dan dia adalah seorang laki-laki.
(Nawal El Saadawi 2002, h. 22 dan 30)
02. Entrok
Buku ini ditulis oleh salah satu penulis favoritku, Okky Madasari, menceritakan tentang perempuan di Jawa Tengah yang juga harus berjuang menghadapi kehidupan di masa orde baru, sulitnya menjadi perempuan di dunia patriarki, dan tentang kepercayaan atau keyakinan yang dianut oleh Marni dan Rahayu (mereka adalah Ibu dan anak). Dengan membaca cerita yang asalnya dari Indonesia, aku merasa lebih dekat pada perjuangan mereka.
“Ealah.. Nduk, sekolah kok malah membuatmu tidak menjadi manusia.”
Masih dari Okky Madasari, Maryam mengisahkan tentang perempuan asal Lombok penganut Ahmadiyah yang harus mengalami diskriminasi dan penderitaan karena kepercayaannya. Kasus ini memang berasal dari apa yang terjadi pada realita, di Lombok memang sempat terjadi diskriminasi terhadap kepercayaan Ahmadiyah.
Sebenarnya novel ini lebih membahas tentang hak beragama dan bagaimana seharusnya kita bersikap meski ada perbedaan. Namun, aku masih ingat kisah Maryam yang harus berseberangan dengan mertua dan menumpukan segala kesalahan ke istri.
04. Tarian Bumi
Ditulis oleh Oka Rusmini, penulis yang sering menulis tentang perjuangan perempuan. Lewat Tarian Bumi, aku banyak belajar soal Bali dan kasta-kastanya, dan lagi-lagi soal perjuangan perempuan.
Quotes yang paling kusuka:
“Kelak, kalau kau jatuh cinta pada seorang laki-laki, kau harus mengumpulkan beratus-ratus pertanyaan yang harus kausimpan. Jangan pernah ada orang lain tahu bahwa kau sedang menguji dirimu apakah kau memilki cinta yang sesungguhnya atau sebaliknya. Bila kau bisa menjawab beratus-ratus pertanyaan itu, kau mulai memasuki tahap berikutnya. Apa untungnya laki-laki itu untukmu? Kau harus berani menjawabnya. Kau harus yakin dengan kesimpulan-kesimpulan yang kaumunculkan sendiri. Setelah itu, endapkan! Biarkan jawaban-jawaban dari ratusan pertanyaanmu itu menguasai otakmu. Jangan pernah menikah hanya karena kebutuhan atau dipaksa oleh sistem. Menikahlah kau dengan laki-laki yang mampu memberimu ketenangan, cinta, dan kasih. Yakinkan dirimu bahwa kau memang memerlukan laki-laki itu dalam hidupmu. Kalau kau tak yakin, jangan coba-coba mengambil risiko.”
― Oka Rusmini, Tarian Bumi
05. Novela dari Pramoedya Ananta Toer
Banyak orang yang bilang membaca buku-buku Pramoedya Ananta Toer itu sulit dimengerti karena 'level sastranya'. Enggak juga kok menurutku, bahasanya memang sering berbeda dengan bahasa hari ini, tetapi tetap nyaman dibaca dan indah sekali ceritanya. Pramoedya Ananta Toer adalah sosok laki-laki yang selalu konsisten menceritakan perjuangan perempuan, aku sudah membaca dua novelanya yaitu Gadis Pantai dan Midah. Gadis Pantai adalah cerita yang mengkritik kaum priyayi dan Midah adalah cerita yang mengkritik kaum religius.
06. Non-fiksi: Membicarakan Feminisme
Setelah membaca novel-novel, aku juga penasaran dengan sejarah feminisme, tentang bagaimana awal mula dan apa saja macam-macam gerakannya. Akhirnya aku membaca Membicarakan Feminisme dari Nadya Karima Melati. Menurutku ini cocok banget untuk menjadi buku feminisme untuk pemula yang mau belajar feminisme, pembahasannya cukup komprehensif tetapi tidak sulit dimengerti.
Aku juga membahas topik buku feminisme untuk pemula di YouTubeku, ya! Kamu bisa menontonnya di sini:
Apakah kamu punya referensi buku feminisme untuk pemula lainnya? Kalau ada, beritahu di kolom komentar, ya!
Memahami feminisme ketika kita sudah terjebak pada dunia patriarkis memang sulit. Aku saat belajar feminisme pun juga sering berpikir, menga...
Memahami feminisme ketika kita sudah terjebak pada dunia patriarkis memang sulit. Aku saat belajar feminisme pun juga sering berpikir, mengapa buku-buku ini selalu menyalahkan laki-laki? Hadeh, dasar produk patriarkis jadi enggak sadar bahwa ia seharusnya membela hak-hak asasi manusia perempuan yang selama ini didiskriminasi, bukan malah membela budaya yang seharusnya diluruskan.
Bahkan aku sendiri pun sering menjatuhkan perempuan saat tak mengenal konsep feminisme. Untungnya, ada teman yang mengingatkanku. Duh, kalau ingat-ingat masa itu, mohon ampun deh.
Syukurlah aku sudah belajar meski baru sedikit. Feminisme bukan soal perempuan melawan kodrat kok, lagian kodrat itu apa betul benar-benar ajaran agama atau tafsiran yang setengah-setengah dan belum kita pahami sepenuhnya? Feminisme hadir karena memang ada hak-hak gender yang selama ini jadi minoritas dan harus diperjuangkan. Seperti kasus perkosaan yang tak ada hukum yang benar-benar melindungi, pernikahan dini, hak pendidikan perempuan dan masih banyak lagi.
Aku dulu mulai belajar dari buku-buku fiksi alias novel, karena menurutku novel itu pas banget untuk melatih empati terhadap isu-isu khusus terlebih dahulu. Ketika empati kita sudah tergerak, rasanya kita lebih mampu belajar tentang isu-isu tersebut.
Novel tentang feminisme yang aku baca saat awal-awal mengenal feminisme adalah Entrok dari Okky Madasari, dan Tarian Bumi dari Oka Rusmini. Keduanya mengisahkan perjuangan perempuan di Indonesia, kalau Entrok tentang perempuan yang pada saat itu sangat ingin menggunakan 'bra' tetapi dihina oleh perempuan lainnya karena pada saat itu hanya orang-orang khusus yang menggunakan entrok atau 'bra'. Di dalam Entrok juga menceritakan beberapa generasi perempuan yang memiliki pandangan berbeda, tetapi nampaknya masalah diskriminasinya tak jauh berbeda. Sementara Tarian Bumi, aku jadi tahu tentang budaya hindu dan mengapa ada beberapa aspek yang begitu tidak adil.
Dua novel itu benar-benar memicu rasa penasaranku dan berlanjut membaca novel tentang perempuan lainnya seperti Gadis Pantai dan Midah: Simanis Bergigi Emas yang sama-sama menceritakan perjuangan perempuan dari Pramoedya Ananta Toer. Kalau Gadis Pantai, soal perempuan yang dipaksa menikah dengan priyayi. Sementara Midah, perempuan di Jakarta yang kabur dari keluarganya yang sangat agamis. Keduanya memiliki cerita yang membuat sadar bahwa selama ini perempuan begitu dirugikan.
Tapi novel saja emang enggak cukup. Penasaran dong dengan sejarah, teori dan pengertian feminisme itu sendiri? Akhirnya aku membaca buku non-fiksi yang cukup komprehensif dan mudah banget dipahami. Judulnya: Memahami Feminisme dari Nadya Karima M.
Ulasan lengkapnya, sebenarnya sudah aku bikin di channel Youtube, coba tonton di bawah ya:
Tapi secara singkat, menurutku buku ini:
Cukup komprehensif membahas sejarah dunia dan sejarah Indonesia secara khusus tentang feminisme.
Pemahaman perjuangan feminisme dijelaskan cukup lengkap, sehingga bisa membantu pembaca untuk paham apa urgensinya feminisme.
Ada bagian yang memancing daya kritis, terutama soal saat penulis mengkritik bagaimana islam memandang gender.
Jadi kalau kamu sedang mencari buku non-fiksi yang mudah dimengerti tetapi pembahasannya cukup utuh, kamu bisa baca Memhamai Feminisme. Namun kalau mau memulai membaca novel dahulu, bisa coba judul-judul novel yang tadi sudah aku sebut ya.
Apakah kamu punya rekomendasi lainnya? Bisa beri komentar di bawah, ya!
Sejak tahun ini, aku lebih serius lagi belajar apa itu self-love yang selama ini aku abaikan. Ada yang membuat lelucon mengapa self-love b...
Sejak tahun ini, aku lebih serius lagi belajar apa itu self-love yang selama ini aku abaikan. Ada yang membuat lelucon mengapa self-love baru kita bicarakan lebih intens karena selama ini di pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (Pkn), kita diminta untuk mendahulukan kepentingan masyarakat, daripada kepentingan pribadi. Hahahaha ya.. ada benarnya juga, meski jelas konteksnya berbeda.
Masa di mana aku merasa harus lebih mengetahui self-love adalah di saat aku bingung mengapa di setiap kejadian, aku lebih sering menyalahkan diri sendiri. Minta maaf pada setiap hal sederhana, bahkan kadang aku sudah tahu itu bukan sepenuhnya salahku, tapi seperti lebih mudah menyalahakan diri sendiri. Hingga akhirnya bertemulah aku dengan buku "How To Stop Feeling Like Sh*t", dengan kegelisahan yang aku alami, sebetulnya nggak butuh waktu lama untuk akhirnya memutuskan membaca buku ini.
Buku ini berisi 14 kebiasaan yang membuat kamu merasa tidak berharga (worthless), dan merasa seperti sampah (feeling like shit). Dari 14 kebiasaan tersebut, bab pertamanya bener-bener nampol banget sih. Yaitu tentang bagaimana kita mengontrol inner-critic, tapi diawali dengan memahami sumber kebiasaan inner-critic itu dari mana.
Sumber inner-critic itu sebenarnya tidak murni dari kita yang terlalu overthinking kok. Salah satu sumbernya kita dipermalukan oleh orang lain sehingga kita tidak nyaman melakukan sesuatu yang tadinya kita merasa tidak masalah, dan mulai mempertanyakan apa benar yang dikatakan orang lain tersebut. Misalnya, sebelumnya kita menerima keadaan fisik kita, tapi saat orang lain mulai nyeletuk, "Kamu kok gendut banget sih?" Lalu yang tadinya kita memang menerima bahwa badan kita berisi normal, jadi pusing dan berpikir keras apakah memang kita segendut itu yah?
Bab ini juga sempat kubuat videonya khusus, bisa klik di sini.
Bab selanjutnya yang aku suka adalah Bab 15, ini bab terakhir untuk kita lebih mengenali diri melalui value diri apa yang bisa membantu kita untuk tumbuh selagi memperbaiki 14 kebiasaan yang membuat kita membenci diri sendiri. Rasanya jadi lebih percaya diri lagi untuk tumbuh dan berproses.
Selengkapnya ulasan dari buku ini, kalian bisa tonton video di bawah ini ya.
Untuk dapat rekomendasi buku self-improvement lainnya, kalian juga bisa subscribe kanal youtubeku.
FAQ Buku:
Bukunya beli di mana? Aku beli di Amazon Kindle, harganya 8.49 USD.
Bukunya bahasa inggris ya? Iya.
Ada buku terjemahannya? Ada, sudah diterjemahkan oleh Shira Media.
Ketika menemukan buku "How To Stop Feeling Like Sh*t" di lini masa, aku langsung membatin, j elas itu bukunya buat aku nggak sih...
Ketika menemukan buku "How To Stop Feeling Like Sh*t" di lini masa, aku langsung membatin, jelas itu bukunya buat aku nggak sih? Belakangan ini aku menyadari betul beberapa mental breakdown yang kerap terjadi karena terlalu nyalahin diri sendiri, seakan-akan aku berhak untuk disalahkan. Sering banget 'berasa seperti sampah' yang enggak berguna atau feeling like shit.
Nggak lama, aku langsung beli aja bukunya di Amazon Kindle. Sebuah gawai untuk membaca e-book yang enak banget digunakan, dan membeli buku berbahasa inggris jadi jauh lebih mudah. Ulasan penggunaan Amazon Kindle, bisa kamu tonton di sini.
Buku ini menjelaskan 14 kebiasaan yang bakal bikin kita ngerasa nggak berharga, kebiasaan tersebut adalah: 1) inner critic; 2) isolating; 3) numbing; 4) compair; 5) self-sabotaging; 6) imposter complex; 7) people pleasing/approval seeking; 8) perfectionism prison; 9) being strong); just lemme do it; 11) catastrophe; 12) the blame game; 13) zero fucks mentality; 14) nobody likes a slacker.
Ada banyak kebiasaan yang harus kuperbaiki, tapi satu yang cukup mengganggu adalah menjadi people pleaser. People pleaser adalah orang yang terbiasa membuat orang lain atau membuat semua orang bahagia. Nggak bisa bilang enggak, karena gak enakan, atau karena dia takut aja dia bakal nggak disukai sama orang lain.
Apa sih yang paling bikin masalah? Semakin banyak mengiyakan semua hal, bikin kita overwhelmed dan nggak ada satu pun yang bisa beres. Makin berasa merasa bersalah kan? Si people pleaser ini ternyata juga butuh validasi, butuh pengakuan, karena apa yang dia usahakan dengan mengiyakan semua hal itu bukan karena dia baik aja. Nah, validasi itu yang perlu dicari agar kita bisa memahamkan diri sendiri bahwa validasi itu tidak perlu dicari di orang lain.
Misalnya aku merasa butuh bukti bahwa aku adalah orang yang peduli sama sekitar, aku bukan orang yang sejahat itu. Dulu, aku akhirnya mengiyakan permintaan membantu ini dan itu, demi validasi itu. Padahal, mungkin aku gagal di beberapa hal untuk menjadi orang peduli, tapi sebetulnya aku udah cukup baik kok di beberapa hal untuk peduli. Bukan malah melakukan segala hal demi orang lain dan lupa bahwa itu bikin kita ngerasa capek dan berdampak buruk pada lainnya.
You are good enough, kok. Sering kali ini gak sih yang pengin kita dengar?
Ada cara untuk mengatasi kebiasaan people pleaser ini, kamu bisa tonton selengkapnya di kanal Youtubeku untuk dapat penjelasan lebih dalam, ya!
Mendengar Gita Savitri Dewi merilis buku keduanya, sebenarnya terpikir beli gak ya dengan penuh keraguan. Sebab nggak terlalu merasa butuh...
Mendengar Gita Savitri Dewi merilis buku keduanya, sebenarnya terpikir beli gak ya dengan penuh keraguan. Sebab nggak terlalu merasa butuh-butuh banget membacanya, tapi penasaran juga sih. Beberapa kali ke toko buku, melihat buku "A Cup Of Tea", tetap nggak tergoda. Sampai akhirnya kemarin.. beli juga hahahaha.
Buku ini banyak juga yang menyebut "BACOT-nya Gitasav", sebab Buku A Cup Of Tea disingkat menjadi BACOT.
Sebetulnya aku enggak terlalu suka sama cover-nya, karena kurang menggambarkan isinya. Kalau baca judulnya aja, sub-judulnya, dan sinopsisnya.. aku masih merasa kurang ok gitu. Semestinya sesuai isi bukunya, di mana buku ini didominasi perjalanan Gitasav dari satu negara ke negara lain, ya judulnya harus menggambarkan hal tersebut.
Ada lagi yang aku kurang suka, informasi penulis di back cover-nya ditulis dengan perspektif Paul, suaminya. Manis sih, tapi kayak.. biar apa gitu. Mungkin biar kelihatan sweet aja kali ya.
Tapi berikut alasan mengapa buku ini menyenangkan untuk dibaca:
Cerita perjalanan Gitasav ke berbagai negara jadi menumbuhkan rasa bisa keliling dunia juga sih.
Cerita perjalanan Gitasav bukan dari sisi gimana caranya traveling, tapi lebih ke isu-isu besar dunia seperti Trump, diskriminasi kaum minoritas, kaum muslim di Athena, dan lain-lain.
Cara ceritanya kayak Gitasav nulis blog, jadi fun, aku membaca ini hanya butuh waktu 6 jam saja.
Ada cerita lain soal cyberbullying yang juga menarik untuk disimak.
Kalau kamu ingin tahu Review Buku "A Cup of Tea" dari Gitasav lebih panjang, bisa tonton videoku di sini, ya. Jangan lupa subscribeagar buku rekomendasi terbaru bisa muncul di lini masa Youtubemu.
Review buku pertama Gitasav berjudul Rentang Kisah, juga bisa ditonton di sini.
Foto: sophiamega Sedikit memiliki teman yang keturunan Cina membuat saya enggak terlalu mengenal bagaimana stereotipe pada orang Cina. ...
Sedikit memiliki teman yang keturunan Cina membuat saya enggak terlalu mengenal bagaimana stereotipe pada orang Cina. Ya paling ngertinya mereka lebih banyak bisnis dan cukup pelit. Bahkan saya sempat kagum dengan orang-orang keturunan Cina, saat zaman penjajahan, mereka sibuk membuat media yang bisa menyambungkan antara orang Cina dari satu Negara dengan Negara lainnya untuk berkomunikasi terkait bisnis. Sehingga bagaimana pun zamannya, mereka akan bisa survive bersama.
Menambahkan review saya yang ada di Youtube, atau bisa kalian klik di sini, ada banyak alasan kenapa buku ini worth to read.
Drama yang komplit.
Who doesn't love drama? Semakin drama, warganet semakin suka. Namun orang cenderung menganggap remeh novel 'pop' atau populer yang lebih banyak dramanya dibanding esensinya. Meskipun Crazy Rich Asians super drama yang menceritakan kisah romantis dan segala drama keluarga, tebakan saya ini memang yang ada di realita.
Bagaimana saat seorang pria siap menikah, hingga seseorang Ibu menganggap tidak ada teori 'menunggu yang paling tepat'. Tapi ketika seorang pria telah berada di fase siap, siapa pun perempuan yang ada di sisinya, pasti akan menjadi tepat dan akhirnya menikah. Meskipun ini sedikit menyedihkan, tapi dalam hati saya sedikit menyetujuinya.
Atau ketika menyeramkannya mengenalkan pasangan kita di saat kultur keluarga yang memandang rendah orang lain dari segi derajat keluarga. Cerita bagian ini benar-benar membuatku tersedu-sedu. Dua hal ini saja, kita bukan sekadar terhibur akan novelnya, tapi mengetahui apa realita yang sedang kita hadapi.
Menceritakan kultur Cina yang blak-blakan.
Kevin Kwan, sebagai penulis, sangat blak-blakan menceritakan tentang kultur Cina yang sebenarnya dia juga orang Cina yang menghabiskan waktu di Singapura. Blak-blakannya sering kali membuat saya yang malah takut kalau Kevin Kwan akan diprotes orang berketurunan Cina saat menulis novel ini. Bisa jadi ini bukan sebuah novel, tapi jadi ada unsur kritisnya pada etnisnya sendiri.
Salutnya lagi, berani dibuat menjadi sebuah film. Enggak bayangin bagaimana tanggapan penonton, tapi kalau saya sangat excited untuk segera menontonnya.
Stereotipe di masyarakat terhadap orang keturunan Cina bener gak sih?
Di dalam novel ini disampaikan bahwa orang Cina memang cenderung tidak mau mengeluarkan uang lebih pada beberapa hal. Tapi di berbagai sisi, mereka bisa sangat loyal karena dalam novel ini menceritakan keluarga dari Cina yang memang crazy rich alias super kaya. Bahkan dalam kutipan di novel sampai mereka dianggap lebih kaya daripada Tuhan hahaha.
Sisi feminis pada novel.
Banyak perempuan yang lebih speak-up dan mengontrol kehidupan orang lain di sini, dan dibuktikkan bahwa yang merendahkan perempuan bukan selalu laki-laki, tapi sangat bisa perempuan itu sendiri. Tapi, ada sepotong cerita, bahwa dalam sebuah rumah tangga, seorang istri sangat tidak pede pada statusnya sebagai ibu rumah tangga. Sedangkan suaminya adalah seorang dokter (jika tidak salah), dan mereka benar-benar kaya. Tapi sebenarnya kekayaan itu karena istrinya yang jago mengatur keuangan dan selalu beruntung saat investasi. Istrinya yang paling ngerti bagaimana mengolah uangnya.
Meski dari sisi istrinya selalu tidak pede dan merasa rendah diri, saking merasa rendah diri sampai-sampai dia enggak mau satu mobil sama suaminya. Kevin Kwan tetap menunjukkan sudut pandang lain bahwa dalam rumah tangga yang sering kali dianggap istri dari suami yang kaya hanya menghamburkan uang ternyata tidak selalu.
Novel 469 halaman ini memang terdengar sangat populer dan cuma haha-hihi aja, tapi bagi saya, kalian bisa dapat banyak hal dalam novel ini. Worth to reaaad! Siapa hayooo yang mau nonton filmnya di Agustus 2018 nanti?
Oh ya, jangan lupa nonton versi videonya di:
Dahulu, saya punya kebiasaan untuk membeli buku dengan judge by its cover. Ya karena saya sama sekali gak tahu buku apa yang bagus da...
Dahulu, saya punya kebiasaan untuk membelibuku dengan judge by its cover. Ya karena saya sama sekali gak tahu buku apa yang bagus dan mana yang enggak. Buku mana yang perlu saya baca dan tidak. Bahkan saya tidak mencoba mencaritahu mana penulis yang terkenal, benar-benar dari first impression cover atau sinopsis. Salah satunya pada novel Crazy Rich Asians.
Sebenarnya proses membaca saya masih 30%, itu pun membaca karena tahu udah muncul trailernya! Kayaknya keren gitu sih, jadi baca deh. Seperti judulnya, novel ini menceritakan orang Asia yang dalam hal ini keturunan Cina yang 'kaya tujuh turunan'. Dalam proses membaca ini, yang saya tahu ada beberapa stereotype tentang orang China yang memang sesuai di novel dan ada juga yang mematahkan stereotype itu.
Saya menemukan beberapa hal menarik dalam novel ini. Pertama, orang yang keturunan China kan memiliki marga khusus. Nah, saya baru tahu mereka bisa hanya melihat nama belakangnya lalu tahu dia keturunan mana, apakah 'Cina Daratan' atau 'Cina Peranakan'. Tahu orang kaya sejak lama atau baru kaya, tahu seberapa besar warisannya, yang lucunya sih mereka yang kaya-kaya ini saling menunjukkan bahwa mereka adalah orang yang paling miskin.
Kedua, terdapat bagian di mana perempuan menerima laki-lakinya atau suaminya yang selingkuh. Bahkan menganggap itu semua wajar dan tak boleh berlebihan. Gila sih, perempuannya 'senerima' itu. Ada sebuah konflik perselingkuhan yang bikin saya gak sabar buat terus ngelanjutin baca ini meskipun ada beberapa hal yang membosankan.
Kemudian ada satu kutipan yang menurut saya menarik, yaitu:
Dia sungguh-sungguh percaya bahwa semua perkataan tentang 'jatuh cinta' atau 'menemukan yang tepat' sepenuhnya omong kosong. Pernikahan itu murni masalah waktu, dan kapan pun seorang pria akhirnya selesai menabur gandum liar dan siap menetap, gadis mana pun yang kebetulan ada di situ pada waktu itu akan menjadi yang 'tepat'.
Kutipan tersebut karena tokoh yang meyakini hal tersebut menemukan beberapa keluarganya seperti itu. Ya kadang-kadang saya percaya sih, meskipun istilah 'menabur gandum liar' tentu akan membuat laki-laki baik-baik protes.
Untuk proses 'lagi dibaca' masih sampai situ dulu yang menurut saya menarik, nanti dilanjut di 'lagi dibaca' selanjutnya hingga selesai, ya! Kalau yang udah baca novel ini bisa saling berbagi di kolom komentar di bawah.
Tugas praktikum yang membuat saya membuka kembali buku WOW Building Indonesia Tourism and Creativity Industry. Sebenarnya banyak sih t...
Tugas praktikum yang membuat saya membuka kembali buku WOW Building Indonesia Tourism and Creativity Industry. Sebenarnya banyak sih tugasnya, mulai harus belajar Destination Branding, Community Development, dan beberapa hal lain. Tapi, saya langsung ingat kalau pernah baca buku ini dan mencoba membaca kembali.
Tepatnya di bagian matriks Tourism 3.0. Udah bikin summary-nya, cek foto di bawah ini ya.
Dalam matrik tersebut ada empat sumbu penting. Dua sumbu pertama: (1) CULTURE-ADVENTURE-NATURE, ini memudahkan kita melihat sebuah wilayah dalam "HELICOPTER VIEW", sederhananya: sesuatu yang kompleks jadi sederhana, dari tiga aspek potensi bisa jadi satu BIG PICTURE untuk membangun pariwisata yang brandingnya jelas
Sumbu selanjutnya, (2) ENJOY-EXPERIENCE-ENGAGE, ini adalah level di mana tahap customer path di bagian "ACTION" bekerja. Karena Tourism 3.0 gak cuma bikin enjoy dan punya experience ini, tapi ENGANGE. Engage di sini memiliki maksud bahwa turis yang datang ke tempat wisata ingin terlibat lebih di tempat wisata tersebut.
Dua sumbu selanjutnya adalah semacam tahapan dampak dari strategi yang kita buat. Yakni: (1) Creativity-Challenge-Commitment, saya masih enggak paham ditahap ini~ wkwk jadi gak bisa jelasin deh. (2) OK-AHA-WOW, tahap WOW udah ada di kolom biru di bawah kanan.
Meskipun sekilas membaca, paling enggak hari itu belajar sedikit lah buat kuliah hehehe. Besok-besok mau membaca lagi biar makin paham. Untuk review buku ini di Youtube juga udah ada kok, kamu bisa tonton di bawah ini:
Innofiction, merupakan buku kedua yang saya baca dengan berbahasa Inggris tapi yang menulis adalah orang Indonesia. Dari judulnya, INNOF...
Innofiction, merupakan buku kedua yang saya baca dengan berbahasa Inggris tapi yang menulis adalah orang Indonesia. Dari judulnya, INNOFICTION 'An essential aspect of creativity is not being afraid to fail", bisa langsung kita simpulkan bahwa isinya tentang kreatif dan tidak takut gagal. Meskipun kita bakal dibuat bingung apa sebenarnya 'innofiction'? Kenapa sub-judulnya agak susah untuk langsung segera dipahami.
Cover emang kurang menarik menurut saya, terlalu kaku untuk sebuah buku yang memiliki topik kreativitas. Kalau kita diberi pilihan untuk membeli buku dengan topik kreativitas lainnya di rak toko buku, mungkin kita akan mengabaikan yang satu ini kecuali udah ngerti kalau buku ini cukup worth it untuk dibeli.
Secara bahasa emang agak kurang nyaman di awal. Tapi saya baru tahu lho kalau mereka menerbitkan versi bahasa Indonesia. Menurut saya ini bisa jadi jalan tengah bagi saya yang kurang nyaman dengan bahasa Inggrisnya tapi cukup tertarik dengan isinya.
Dalam buku Innofiction, banyak pemikiran baru yang akan kita dapatkan di sini. Misalnya dalam novel ini menjelaskan bahwa:
"Instead of admiring people who generate ideas, we should be grateful to the people who can take a raw original idea, evolve it."
Menurut saya, penekanan kalimat di sini lebih pada evolve it-nya. Iya, kita emang perlu kok mengagumi orang yang punya ide-ide keren. Tapi kita harus lebih mengapresiasi orang-orang yang mau mengembangkan ide tersebut. Atau singkatnya, ide tuh enggak akan bernilai kalau gak direalisasikan.
Di awal, pembahasannya agak rumit dan enggak terlalu menarik buat saya yang enggak terlalu paham hal-hal berbau digital. Tapi sebenarnya, isinya tuh banyak yang penting dan bagus. Jadi buku ini bukan menjadi buku yang saya habiskan, tapi baca beberapa hal yang saya perlukan.
Yang paling menarik menurut saya di buku Innofiction ini adalah di Social Entrepreneurship-nya. Mungkin karena saya punya kecenderungan lebih banyak belajar soal komunikasi ya? Jadi agak kurang ngeh kalau disuruh baca buku digital. Di sini lengkap banget perbedaan antara CSR (Corporate Social Rensponsibility) dengan CSV.
Buat kamu yang #MagerBaca, udah saya bikinkan resume atau intisarinya nih.
Lebih lengkap klik link di sini.
Buku Innofiction juga udah saya review di Youtube, meskipun jadi buku yang gak berhasil saya baca di tahun 2017. Kamu juga bisa tonton di bawah ini ya:
Seneng banget ketika baru aja bikin channel Youtube untuk review buku terus diajak oleh Kak Dhyn gabung ke komunitas Booktube Indonesia...
Seneng banget ketika baru aja bikin channel Youtube untuk review buku terus diajak oleh Kak Dhyn gabung ke komunitas Booktube Indonesia. Sejak saat itu, referensi buku semakin beragam, bahkan jadi lebih semangat untuk baca buku.
Apalagi sejak kenal Litsa, Smoglit Reviews. Kami sering ngobrol dan bertemu beberapa kali, hingga membuat movement #Collabooks. Di mana #Collabooks ini adalah gerakan baca bareng buku yang sama, baik penulis atau judulnya yang sama, di Instagram. Lalu saya dan Litsa akan membagikan final thought tentang buku tersebut di Youtube. Sedangkan yang udah ikut baca bareng #Collabooks, akan diberi apresiasi buku. Yay!
Selain kita bikin #Collabooks, Litsa banyak beri referensi buku. Salah satunya #Collabooks di bulan Maret adalah Cantik Itu Luka dari Eka Kurniawan. Buku ini cukup terkenal, tapi ya saya enggak ikut keramaian buku ini sampai akhirnya punya kesempatan baca dengan versi yang udah dicetak kembali versi hardcover.
Review sebelum versi hardcover, ada versi cover yang lebih lama dari ini.
Foto didapatkan dari blog: http://raungsurya.blogspot.co.id
Seperti hardcover pada umumnya, jadi lebih mahal cuy. Kalau buku dengan cover biasa kan harganya sekitar 90.000-an aja, nah ini jadi 175.000 IDR. Tapi karena saya beli di Togamas, jadi diskon tinggal 148.750 IDR aja.
Novel Cantik Itu Luka udah saya review di Youtube, tapi izinkan kali ini saya menceritakan apa-apa yang menarik dan enggak sempat disampaikan di Youtube. Kalau di Youtube saya lebih fokus pada jalan cerita yang 'sia-sia', yang hidup ternyata seberusaha apapun kita, ujung-ujungnya gak ada gunanya. Atau pemikiran ini disebut absurdisme. Sedangkan di review kali ini saya pengin bahas soal komunisme.
Sejujurnya, saya enggak terlalu paham komunisme. Bahkan di semester lima, saya masih bertanya soal: sebenarnya yang kiri itu gimana yang kanan itu gimana? Ya apalah saya yang cuma doyan kelas public relations saat di kampus meskipun di Fakultas Sosial dan Politik. Tapi melalui novel Cantik Itu Luka, sedikit banyak saya mengerti bagaimana komunisme ada.
Di novel ini cukup lengkap membahas komunisme, mulai dari cara berpikirnya. "Sama rata dan sama rasa" ternyata menjadi prinsip dasar dari ideologi ini. Banyak menjelaskan seberapa kuat Marxis di dalam bagian komunisme. Dan yang paling penting: bagaimana perjuangan komunisme di Indonesia, salah satunya di Halimunda, salah satu pulau fiksi yang dibuat oleh Eka Kurniawan, penulis Cantik Itu Luka.
Kamerad Kliwon, sosok laki-laki yang dipuja-puja seluruh perempuan di Halimunda, akhirnya memperjuangkan ideologi komunisme. Padahal sebelumnya telah diwanti-wanti oleh Ibunya agar tidak mengikuti paham bapaknya, yang menurut Ibunya, orang-orang komunisme tersebut selalu murung. Bahkan Ibunya tak masalah jika Kliwon yang dahulu sangat bandel bahkan sering berbuat onar di Halimunda, dibandingkan harus menjadi komunis.
Yang paling menarik menurutku adalah alasan kenapa Kamerad Kliwon harus memperjuangkan rakyat, khususnya nelayan di Halimunda. Ia tahu bahwa ideologinya itu tak akan mengubah banyak, tapi ia pun benci pada segala hal yang tidak adil di luar sana. Tapi tak banyak hal yang bisa ia lakukan, selain memperjuangkan hak-hak para nelayan yang membuatnya tak terbebani dengan segala hal yang tidak adil. Itu mengapa ia selalu menolak jika akan naik jabatan di partai, karena bukan karir partai yang ia butuhkan, ia hanya ingin memperjuangkan hak para nelayan.
Ini yang membuat saya lantas paham, oh sebenarnya ini nilai yang ada dalam komunisme. Tapi ya dalam novel ini enggak langsung bisa kita tahu mengapa komunisme lantas dibenci. Atau mengapa komunisme terkesan 'memberontak'. Memang, novel adalah media baca yang pas untuk kita yang males belajar sejarah terus jadi kepo untuk belajar.
Di novel Cantik Itu Luka meskipun fiksi, dia emang tergolong historical fiction. Di mana, alur sejarahnya emang sesuai, tapi ada beberapa yang fiksi. Banyak yang bisa kita dapat dan tahu, tapi ada juga jalan cerita yang emang fiksi.
Novel ini emang bukan menceritakan Kamerad Kliwon, tapi novel Cantik Luka memang punya karakter kepenulisan yang akan menjelaskan setiap tokoh yang ada di dalamnya. Meskipun tokoh utama Dewi Ayu, kita akan tetep tahu jalan cerita dan apa yang ditempuh dari setiap tokohnya. Pantes lah ya novelnya tebel~, tapi sama sekali enggak bikin kamu bosen kok (meskipun di cerita gerilya Shodanco itu ngebosenin banget, Shodanco adalah salah satu tokoh di novel ini).
Nah untuk review lebih lengkapnya, bisa kamu tonton di sini ya:
Beberapa hari ini saya bertanya pada diri sendiri: apa yang membuat saya kadang enggak suka melihat beberapa orang bahagia? Jika dilih...
Beberapa hari ini saya bertanya pada diri sendiri: apa yang membuat saya kadang enggak suka melihat beberapa orang bahagia? Jika dilihat dari karakter umum, saya emang sosok yang loyal sekaligus pendendam. Ketika percaya banget sama satu orang, just mention anything, I'll give you everything. Enggak cuma soal pasangan ya, kepada partner bekerja sebelumnya sering begitu. Tapi, ketika satu kali dikecewain, bisa dibilang saya akan memutus segala hubungan dan enggak mau support apapun.
Keputusan untuk mencukupkan hubungan ke setiap orang seperlunya saja, enggak selalu bikin hati damai. Untuk damai, seperti pesan teman-teman saya yang lebih bijak, saya harus tahu penjaranya apa. Beberapa waktu saya berpikir, dan ternyata penjaranya adalah saya tidak suka melihat keadaan yang tidak adil.
Contoh sederhana yang sering banget atau sehari-hari ada adalah, ketika ada orang lain mengeluh kehidupannya selalu buruk, bahkan lebih buruk dibandingkan orang lain dan meminta orang lain untuk selalu mengerti kondisinya, bahkan dalam ranah yang profesional.
Pada masa itu, saya begitu membenci orang-orang yang seperti ini. Hingga akhirnya saya nonton film Wonder dan memutuskan untuk membaca novelnya. Novel ini sudah saya review di Youtube dan bisa kalian tonton di akhir video ini, ya! Saya sudah tambahkan agar kalian enggak perlu pindah ke Youtube untuk nonton reviewnya lebih lengkap, karena di sini saya lebih menuliskan dan mengaitkan ke dalam hal-hal personal.
Dalam novel ini, Auggie, tokoh utama yang memiliki perbedaan wajah seakan-akan menjadi matahari yang dikelilingi oleh planet lainnya. Planet lainnya dalam hal ini adalah Ayah, Ibu dan Via sebagai kakak Auggie.
Auggie punya ambisi ingin dilihat sebagai an ordinary kid atau anak biasa pada umumnya. Tapi pada prakteknya, dia selalu memusatkan kehidupannya di permasalahan pribadinya sehingga dia lupa bahwa setiap orang juga punya masalahnya sendiri. Misalnya, Via yang enggak mengajak Auggie untuk nonton teaternya karena beberapa sebab, tapi Auggie berprasangka dan marah karena menganggap Via malu punya adik seperti Auggie.
Hingga akhirnya Via bilang, "It is not always about you." Serta menekankan bahwa setiap orang punya hari buruknya masing-masing. Dan bagaimana bisa Auggie ingin menjadi 'ordinary kid' tapi selalu mempermasalahkan wajahnya dalam segala hal? Via bilang: kalau kamu mau jadi anak biasa, ya ini lah kehidupan anak biasa, selalu punya masalah dan tidak selalu orang lain yang menyelesaikannya.
Gila, itu dalem banget. Kita bisa dapatkan bahwa jika kamu ingin menjadi manusia pada umumnya, ya begini lah menjadi manusia. Akan selalu ada masalah, dan itu yang membuat kita hidup. Ketika kita enggak ada masalah, kita tidak akan tumbuh dan mungkin hanya menjalankan kehidupan formal atau malah seperti robot.
Cerita ini ada di film dan novelnya selalu berhasil membuat saya sadar bahwa: tuhkan huhuhu dasar tuh orang-orang yang egois pada permasalahan pribadinya. Ya dikira sini enggak lagi mengalami kesusahan dan permasalahan? Dikira masalah kita enggak serius gitu? Ya masa harus bilang masalah diri sendiri biar dia ngerti? Ya kan enggak semua masalah harus diceritain.
Yup, novel ini nggak bikin saya langsung tahu caranya berdamai dengan penjara bahwa saya tidak suka keadaan yang tidak adil. Ya kalau saya sekarang berusaha bertahan dengan permasalahan pribadi, ya harusnya dia juga dong. Saya percaya setiap permasalahan selalu sesuai dengan bebannya masing-masing, saya tahu dia sedang menghadapi masalah berat yang enggak bisa saya hadapi jika saya jadi dia, tapi juga sebaliknya kan? Jadi bisa gak sih kalau gak perlu menganggap kehidupanmu yang paling buruk?
Novel dan film Wonder masih berhenti di sana, kita enggak seharusnya memang menganggap masalah kita paling buruk. Tapi akhirnya saya menemukan solusinya dari orang-orang yang saya temui di setiap obrolan kedai kopi dengan kesimpulan yang sama: percaya lah sebenarnya setiap orang sedang melangkah ke tahap yang sama, yang jika dalam kasus ini: mereka sedang mencoba profesional kok. Tapi kita memang sedang dalam tahap lebih cepat dari dia, bersyukurlah, dan terus mencoba memahamkan ke dia. Kalau kamu bukan orang yang bisa membuat dia berubah, dia mungkin harus melewati berbagai jalan yang baik.
Ada cuitan di Twitter: orang mengeluh tuh bukan untuk dibanding-bandingkan, tapi untuk didengar. Saya antara setuju dan enggak setuju dengan ini. Iya emang butuh didengar, tapi kalau terus-terusan begitu, dan enggak diingatkan, apa mau merembet ke urusan profesional?
Ketika saya sudah berdamai dengan pikiran saya, maka tahap selanjutnya adalah mengambil sikap jika ada kejadian yang sama. Keputusan saya ketika ada orang ngeluh di saat gak pas.. saya akan diam saja, mendengarkan dan memberi saran secukupnya, karena memang tidak ada hubungannya antara permasalahan dia dengan beban yang saya punya. Dan kalau ada urusan profesional yang dihubung-hubungkan dengan masalah, ya saya cukup dengan, "Fokus dulu ya, ini tanggung jawab bersama."
Tapi ya kita harus damai dulu dengan pikiran-pikiran kita sendiri, sebelum bisa bilang: fokus dulu ya. Jangan-jangan ketika kita bilang 'fokus dulu y'a masih mikirin, dih ini anak ya bisa-bisanya egois dengan masalah sendiri, aku juga lagi ada masalah yang lagi ditahan lho.
Ya begitulah, begitulah. Menurut kalian gimana kalau bertemu dengan kondisi seperti ini? Bagikan di kolom komentar, ya!
Oh ya, sesuai janji di awal, buat kalian yang belum tahu isi lebih lengkap dari novel Wonder. Kalian bisa tonton review novel Wonder dari R.J. Palacio di bawah ini:
Baik novel dan filmnya, aku suka dua-duanya! Kamu udah nonton atau baca novel Wonder belum?
WONDER
Penulis: R. J. Palacio
Penerbit: KNOPF
Harga: 126.000 IDR (beli di Periplus)
Halaman: 341
Hal yang paling menyenangkan sejak mengulas buku selain jadi lebih rajin baca buku adalah, bisa komunikasi secara langsung dengan berba...
Hal yang paling menyenangkan sejak mengulas buku selain jadi lebih rajin baca buku adalah, bisa komunikasi secara langsung dengan berbagai penulis. Salah satunya yang menurutku cukup berkesan adalah ketika berkenalan dengan Mbak Zur'ah Budiarti.
Di awal, Mbak Zur'ah rajin sekali memberikan saya referensi tentang feminisme, topik yang ingin saya cari tahu saat ini. Hingga akhirnya ia memberi kabar bahwa: dia akan merilis buku dan topiknya feminisme. Melihat Mbak Zur'ah sebagai pribadi yang paham feminisme tapi tetap bisa menempatkan diri bagaimana cara menyampaikan apa yang ia paham dengan baik, saya percaya karya kali ini pasti tidak dikerjakan asal-asalan.
Mbak Zur'ah bahkan punya alasan tersendiri mengapa memilih bukunya diterbitkan secara independen. Ia bilang, tulisannya tidak mau dipaksa sesuai selera pasar. Yup, emang bakal beda kok tulisan yang diterbitkan oleh penerbit mayor dengan penerbit yang kecil. Terkadang novel-novel yang diterbitkan secara mayor punya kecenderungan yang sama dalam gaya bahasa dan alur cerita. Tidak semua gaya penulisan atau bahkan topik cerita bisa diterbitkan di penerbit mayor.
Pilihan menerbitkan buku sendiri memang bisa menjaga idealis yang kita punya. Dan mendengar Mbak Zur'ah menjaga idealis tersebut, saya yakin akan menemukan sesuatu yang berbeda dalam bukunya.
Novel yang berjudul Semu ini diterbitkan Stilleto Book. Saya baru dengar penerbit Stilleto Book yang ternyata khusus membahas tentang perempuan. Wow, ternyata ada, ya! Setelah ini saya harus kepoin website mereka di stilettobook.com. Dan bagi teman-teman yang ingin menulis buku dengan topik perempuan, bisa banget sih menerbitkan bukunya sendiri di sini.
"Aku ingin membuang stigma bahwa penulis pemula hanyalah orang yang ingin buru-buru disebut sastrawan. Itu kenapa aku memilih berusaha se ‘aku’ mungkin dalam artian nggak buru – buru menjual idealisme ku untuk ikut selera bacaan pasar yang terlalu populer," begitu cerita Mbak Zur'ah.
Jadi ketika membaca novelnya, Mbak Zur'ah berharap enggak hanya dapat cerita galau. Tapi mendapat insight, paradigma, tokoh bahkan teori yang bisa dipelajari. Mbak Zur'ah bilang kalau jangan berekspektasi pada karya pertamanya. But sorry, I expect a lot from this novel hahahaha. Saya merasa yakin akan dapat banyak hal di sini.
Cover dari novel Semu yang menarik perhatian saya di awal ketika melihat di Instagram @zurahbudiarti. Bahkan ada tagarnya sendiri, yakni #membacasemu. Ketika mengirimkan buku, Mbak Zur'ah bahkan mengirimkan dalam bentuk subscription book, niat abis! Bikin yang nerima dan mau baca jadi semakin semangat.
Untuk unboxing-nya bisa kalian lihat di Youtubeku, atau lihat di bawah ini.
Tentunya dengan senang hati ketika Mbak Zur'ah menawarkan untuk mengirimkan bukunya dan saya baca ketika tahu topiknya adalah feminisme dengan kecenderungan bad feminist. Saya diberi banyak wawasan sebelum membaca buku ini, seperti paradigma roxane gay, yang merupakan gagasan di era post modern. Istilah-istilah baru ini membuat saya bersyukur bisa kenal penulisnya dahulu sebelum membaca bukunya. Jadi belajar dahulu, lalu baca ceritanya. Enggak cuma terhanyut dalam cerita, tapi menambah pengetahuan baru.
Di bulan Mei, saya janji nyelesein novel ini, saking penasarannya. Jadi tunggu reviewnya di channel youtube.com/c/sophiamegablog, ya! Di blog, saya akan tetap berbagi segmen #SibukBaca dalam hal-hal yang belum sempat saya ceritakan di Youtube. So, stay tuned!
Bertahan di toko buku selama satu jam dua jam, mengamati satu rak ke rak yang lain bukan tanpa alasan. Memang jadinya lebih asik sendiri ...
Bertahan di toko buku selama
satu jam dua jam, mengamati satu rak ke rak yang lain bukan tanpa alasan.
Memang jadinya lebih asik sendiri atau mengajak temen yang emang punya kesukaan
sama, biasanya sih ada teman saya Ira (lostintowns.com) atau Sarah yang setia
diajakin ke toko buku baik dia sedang di Malang atau saya ke Jakarta.
Eh, jadi inget, ada temen cowok
saya namanya Charies, dulu banget dia pernah menemani saya ke toko buku sebagai
rayuan agar saya mendengar curhatannya. Saking sabarnya dia, ketika udah
selesai, dia tanya, “Udah beneran, Meg? Yakin? Gak papa lho kamu muter lagi.”
Dan akhirnya saya muter lagi yang ujung-ujungnya hanya membeli satu buku dari
Rhenald Kasali yang Self Driving.
Bukan sekadar gabut dan emang
suka, tapi ada gunanya juga kok. Kemarin, ketika baru aja menerima brief lomba
dari Pekan Komunikasi UI 2017, ternyata topiknya tentang pariwisata. Seketika inget
banget sama satu buku bercover putih, punya Markplus yang tentu saja selalu ada
unsur ‘WOW’-nya. Suka banget sama covernya, tiap lihat bukunya sih penginnya
bawa pulang, tapi nggak saya beli karena belum merasa butuh tentang topiknya.
Berkat kebiasaan yang mungkin
kebanyakan orang menganggap hal tersebut membosankan, besoknya saya udah nggak
bingung lagi cari buku untuk referensi ikut lomba. Langsung ke Gramedia Malang
Town Square dan membeli buku ‘Building
WOW Indonesia Tourism and Creative Industry’ (IDR 93.000) dengan sisa-sisa uang
di ATM pada Februari lalu.
Lama banget nih nggak nulis
review buku, biasanya sih video aja. Pembahasan yang banyak dan seru kayaknya
kalau di video bakal nggak detail. Jadi lebih baik saya tulis juga di sini dan
biar gampang baca dan pemahamannya, per-poin aja ya?
Bahasa
Butuh satu bulan lebih untuk
menghabiskan buku 221 halaman yang ditulis oleh Sapta Nirwandar, Wakil Menteri
Pariwisata dan Ekonomi Kreatif periode 2011-2014 ini. Bahasanya memang baku tapi tetep asik kok,
mengalir dan nggak kayak buku kuliah.Tapi ada satu bab yang emang
bener-bener saya lewati karena isinya hanya data statistik yang nggak terlalu
saya butuhkan.
Data statistik rata-rata data
tahun 2013.
Di setiap bab sebenernya banyak
data statistik penting dan membuat kita mudah dalam pemahaman dan penggambaran,
tapi karena ini buku
cetakan 2014, jadi data-datanya kebanyakan data tahun 2013. Tetep bisa
jadi patokan, misalnya di buku tersebut menjelaskan tentang peringkat Indonesia
dari 144 Negara berdasarkan potensi wisatanya, karena masih data 2013, kalian
bisa browsing untuk data terbaru dengan keyword yang ada di buku tersebut.
Ada juga data-data yang udah kadaluarsa, seperti destinasi prioritas
kementrian 2013 tentu berbeda dengan yang sekarang. Di buku ini, Parekraf memiliki
delapan lokasi yang menjadi target prioritas investasi di Indonesia, yaitu
Sabang (Aceh), Danau Toba (Sumatera Utara), Bintan (Kepulauan Riau), Belitung
(Bangka Belitung), Tanjung Lesung (Banten), Bugam Raya (Kalimantan Tengah),
Mandalika (Nusa Tenggara Barat), serta Wakatobi Sulawesi Tenggara.
Sedangkan era Jokowi,
Kementrian Pariwisatanya (Arief Yahya) mempunyai 10 destinasi prioritas atau
lebih dikenal dengan istilah 10 Bali Baru, yakni ada Candi Borobudur,
Bromo-Tengger-Semeru, Tanjung Lesung, Tanjung Kelayang, Mandalika, Labuan Bajo,
Danau Toba, Kepulauan 1000 dan Morotai. Untungnya sih saya baca buku ini sambil
ngerjain kasus terbaru, jadi bisa fit
& match data lama dan baru.
Komplit dan terstruktur.
Di awal kita diajak paham dulu
dengan potensi pariwisata, apa domino
effect-nya pada perekonomian Negara dan bagaimana gambaran Negara yang udah
memberikan perhatian penuh dengan potensi wisata. Lanjut ke sejarah, potensi
wisata Indonesia, tantangan yang dihadapi, strategi yang bisa digunakan sampai
contoh kongkritnya.
Serunya sih, di sini juga dibahas tentang pro
dan kontra mengangkat ‘wisata budaya’.
Kontranya
adalah:
Ada anggapan bahwa pariwisata
sejara langsung “memaksa” ekspresi kebudayaan lokal untuk dimodifikasi, agar
sesuai dengan kebutuhan pariwisata. Ekspresi budaya dikomodifikasi agar dapat
“dijual” kepada wisatawan. (hal. 90)
Sedangkan
pronya:
Dengan mengembangkan
wisatabudaya, kita telah mematenkan harta kekayaan yang dimiliki negeri ini,
sehingga tidak diklaim begitu saja oleh Negara lain. (hal. 90)
Kalau nggak
dilestarikan dan nggak ada yang tau budaya tersebut (karena nggak
dikembangkan), ya jangan protes kalau diklaim. Tapi dalam pengembangannya,
nggak lantas ‘wisata budaya’ sekadar jadi ‘komoditas’. Tapi ada tiga elemen penting untuk pelestarian
budaya, yakni perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan.
Di sini saya jadi
paham juga, dari pada rewel ke pemerintahan untuk segera potensi wisata atau
budayanya diresmikan skala internasional karena prosesnya juga nggak sebentar.
Ada kok cara yang bisa kita lakukan sejak sekarang untuk ‘mengklaim’ setiap
budaya yang kita miliki, yakni dengan terlibat dalam kebudayaan tersebut baik
sebagai wisatawan atau menjadi inisiator pelestarian. Memperkaya foto-foto
kebudayaan di Instagram juga jadi langkah awal yang impact-nya nggak hanya sekadar like
dan followers saja. Teman kita
akan tau tentang kebudayaan-kebudayaan yang kita share asal rajin berbagi di situ.
Asik banget lah
buku ini, cocok buat temen-temen yang memang perlu referensi dalam marketing
pariwisata, pengin tau soal tourism advocate atau bagaimana pemerintah bekerja.
Tapi ada satu inti dalam pengembangan potensi wisata dalam sebuah daerah, kalau
kata dosen saya Bu Arum: cari benang
merahnya, sedangkan kalau di buku ini memilih dengan istilah: helicopter view.
Indonesia beragam
banget kebudayaan dan potensi wisatanya. Nilai plus (banget) buat kita, tapi
karakternya jadi buram. Nggak ada karakter yang bener-bener stick on people head tentang Indonesia.
Contoh deh salah satu wilayahnya, tempat yang sedang saya tempati sekarang:
Malang.
Dear
Abah Anton, nggak
ada karakter yang bener-bener mau diangkat dari pemerintah. Mulai dari
‘Beautiful Malang’, ‘Malang Kota Bermartabat’, atau ‘Malang Kota Pendidikan’, wes sak karep panjenengan nggae istilah lah
Pak.
Wisata Malang ini
mau dibawa kemana masih buram, meskipun kemarin ada peresmian Malang Sejuta
Kopi, oke sih, tapi bikin orang bingung juga. Kemarin saya dapet brief dari Bu Arum, dosen saya, tugasnya adalah bikin program gimana caranya menguatkan city branding 'Beautiful Malang'.
Berdasarkan yang saya pahami nih, selama ini yang telah dilakukan Pemkot Malang tuh, membuat Malang 'beautiful' dengan melakukan hal-hal yang mempertahankan julukan-julukan yang selama ini diberikan ke Malang sejak zaman Belanda. Misal Malang Flower Carnival untuk mempertahankan julukan Malang Kota Bunga atau pembuatan taman-taman cantik untuk mempertahankan julukan Paris Van Oost Java.. Semua julukan dipertahankan tapi nggak rajin mengkaitkan ke Beautiful Malang ya bingung juga dong masyarakatnya, ini memang tugas humas pemerintahan sih. Semangat ya Bapak Ibu hihihi, boleh lah kolaborasi sama yang muda-muda.
Nah, di sini
kegunaan cari benang merah-nya, cari
satu keterkaitan yang bisa mudah mendeskripsikan Kota Malang. Gunanya, biar
orang-orang lebih mudah paham dan inget, jadi mau melakukan perjalanan ke Malang, dan nggak
bingung lagi kalau mau ke Malang. Lagian ya, orang Malang sendiri kalau
ditanya, “Enaknya kalau ke Malang ngapain ya?” Nggak semuanya bisa tau, pun
dengan saya sendiri hehehe.
Nggak hanya tugas
besar pemerintah kok, saya sendiri juga perlu berkontribusi dengan cara yang
kecil dan sederhana dulu, misalnya terus sounding
Malang Sejuta Kopi yang baru diresmikan 1 April 2017 lalu. Kalau kalian,
gimana nih? Potensi wisata kalian udah dikembangkan belum sama pemerintah
setempat? Share di kolom komentar di bawah ya!
Anyway, kalau ada
yang kurang paham soal pembahasan saya di atas, dibahas di kolom komentar ya!
Atau langsung lah beli bukunya biar makin paham. Untuk video reviewnya, you can watch on this:
Temukan Penulis
biasanya penulis lebih banyak mengoceh di sini